News
4/13/2018
Front Perlawanan Bersatu Buat Musuh Putus Asa

Raisi:   
Front Perlawanan Bersatu Buat Musuh Putus Asa

Perwalian Haram Suci Razavi mengatakan, hari ini isu yang dijadikan dalih oleh musuh adalah masalah pemboman kimia, dalih ini disebabkan keputusasaan mereka atas terbentuknya front perlawanan Islam bersatu dalam menghadapi Amerika Serikat.

Astan News melaporkan, Hujatulislam Sayid Ebrahim Raisi dalam seminar ilmiah “Duta Hidayah” yang diikuti oleh para cendekiawan Muslim Syiah dan Ahlu Sunnah Khorasan di Universitas Shahid Beheshti, Mashhad menuturkan, Bi’tsah (pengangkatan Nabi Muhammad Saw sebagai Rasul) merupakan salah satu manifestasi terpenting kekuasaan Allah Swt. Seluruh semesta, pemuka dan Imam Maksum as adalah perwujudan keagungan Allah Swt, akan tetapi Bi’tsah adalah manifestasi paling besar.

Menurut Raisi, manifestasi teragung Allah Swt tampak jelas dalam peristiwa Bi’tsah. Pendidikan manusia, adalah masalah dan poros Bi’tsah, sebuah pendidikan dalam arti menghidupkan kecenderungan-kecenderungan luhur kemanusiaan setiap insan.

Anggota Majelis Khobregan atau Dewan Pakar Kepemimpinan Iran itu menerangkan, penyucian diri, pengajaran, membangun masyarakat yang berdiri di atas penyucian diri dan pendidikan agama, membentuk pemerintahan yang berlandaskan ajaran agama dan berusaha bergerak ke arah pemerintahan pendidikan Islam, merupakan salah satu tujuan agama.

Ia menambahkan, ulama adalah pewaris para nabi dalam mewujudkan sebuah masyarakat berasaskan agama dan ajaran agama, dan ini merupakan tanggung jawab yang berat.

Anggota Dewan Penentu Kebijakan Negara Iran ini melanjutkan, apa yang hari ini mengancam Hauzah Ilmiah, intelektual bahkan cendekiawan agama adalah sekularisme atheis, karena pondasi seluruh poros keilmuan masyarakat ini adalah tauhid.

“Irfan dan Sufi-sufi palsu tidak pernah menjadi ancaman bagi pusat-pusat keilmuan kita, karena mereka memiliki khasanah irfan yang kaya,” ujarnya.

Raisi menjelaskan, hari ini sekularisme atheis berubah menjadi ancaman yang ingin menampilkan agama sebagai praktik ibadah individu, pribadi dan privat, dan menunjukkan bahwa agama gagal memainkan peran dalam kehidupan modern. Sekularisme ini yang mengancam agama dan kinerjanya.

Perwalian Haram Suci Razavi melanjutkan, terkadang beberapa kalangan bahkan dalam jubah ulama, mengeluarkan pendapat yang mempertanyakan apakah agama mampu menjawab seluruh permasalahan hari ini dan memenuhi kebutuhan manusia modern ? ini sebuah ancaman.

Di bagian lain pidatonya, Raisi menjelaskan bahwa Bi’tsah Nabi Muhammad Saw adalah kebutuhan umat manusia modern. Menurutnya, hari ini teriakan “Quluu Laa ilaaha illallah Tuflihu” yang disampaikan Nabi Muhammad Saw sebelumnya, bergema kembali.

Hujatulislam Raisi mengatakan, hari inipun ada Bi’tsah, bukan pengangkatan Nabi Muhammad Saw sebagaimana dahulu kala, tapi sekarang kita memperingatinya, Bi’tsah bagi manusia modern urgen setiap hari dan setiap tahun.

Raisi menerangkan, hari ini masyarakat manusia jauh lebih membutuhkan Bi’tsah daripada sebelumnya. Hari ini, Bi’tsah Nabi Muhammad Saw hidup di tengah masyarakat untuk menyeru manusia kepada penyembahan Allah Swt dan menjauhi segala bentuk pencemaran dan keburukan.

“Masyarakat manusia hari ini  lebih membutuhkan ulama dan cendekiawan yang membangkitkan kesadaran, seorang alim yang memiliki spiritualitas dan rasionalitas, untuk menyeru masyarakat kepada akhlak, pemikiran luhur, visi revolusioner, jihad dan gerakan untuk menyelesaikan permasalahan hidup manusia modern,” paparnya.

Menurut Raisi, musuh sebagaimana dulu berbaris di hadapan Rasulullah Saw, untuk mencegah agar seluruh pesan Islam tidak sampai ke masyarakat, hari inipun demikian, mereka kembali berbaris di hadapan pesan Islam.

“Di perang Ahzab, kaum kafir, munafik, musyrik dan orang-orang lemah iman, bahu membahu mencegah keberhasilan Nabi Muhammad Saw dan hari ini kubu imperialis dengan menciptakan pemikiran dan agama-agama palsu, berusaha memecah belah barisan Muslim,” imbuhnya.

Raisi menilai, memiliki “isme”, dipersenjatai oleh ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemampuan media yang kuat, merupakan tiga karakteristik jahiliyah modern dan hari ini, sangat dibutuhkan persatuan, kesadaran dan upaya membangkitkan kesadaran.

Hujatulislam Raisi menambahkan, musuh berusaha agar tujuan syariat tidak terbentuk dengan cara membentuk kelompok-kelompok Takfiri, dan menyebarkan fitnah, akan tetapi persatuan Muslim menjadi ancaman bagi musuh.

Perwalian Haram Suci Razavi menerangkan, seluruh bangsa Muslim hari ini berdiri di hadapan gerakan-gerakan Takfiri dan ISIS buatan Zionis Israel.

“Front persatuan Muslim yang terdiri dari Ahlu Sunnah, Syiah, dari berbagai negara dan bahasa berbeda, sudah terbentuk, sehingga membuat musuh putus asa, apa yang kita lihat di arena politik sekarang adalah tanda keputusasaan musuh,” katanya.

Ia menandaskan, Bi’tsah, agama dan ajaran agama adalah penyelamat umat manusia hari ini, barisan musuh di hadapan pemikiran ini membuktikan bahwa agama dapat mengelola kehidupan manusia modern tanpa membutuhkan resep dari Timur maupun Barat.
 
 
Komentar
 
امتیاز دهی
 
 

نظر شما
نام
پست الكترونيک
وب سایت
نظر
...